G C Arr : bonifatius_
aku tak ingin kehilangan dirimu
Am D
aku pun takkan mungkin jauhi kamu
Bm Em
bayangmu slalu hadir temani langkah hidupku
Am D
kau buat aku bahagia bersama dirimu
G C
kamu yang selalu ada di sampingku
Am D
kamu slalu memperhatikan hari-hariku
Bm Em
tak mampu sejenak pun aku berpaling darimu
Am D
hanyalah dirimu semangat untuk hidupku
Reff:
G D Em
ditengah rintik hujan kutuliskan
C Bm Am D
lewat sebuah lagu yang kupersembahkan
G D Em
untukmu cinta terakhirku
C Bm Am D
hanyalah dirimu satu dihatiku
G
selamanya
bramantya wisnugraha
thanks GOD for all.. thanks to my parents, and all of my teacher and my friends..

Jumat, 10 Juni 2011
Kamis, 09 Juni 2011
untitled
friends ... aku ingin berbagi cerita tentang pengalamanku hidup bersama sebuah keluarga yang gak aku kenal dan aku terpaksa membaur dengan mereka.
suatu liburan di awal tahun 2009, liburan yang berbeda. aku bersama beberapa temanku, yang tergabung dalam Remaja Paroki mengadakan sebuah acara, tajuknya live in. sebuah acara dimana kita, semua remaja yang ada disitu diminta untuk tinggal dua hari satu malam di rumah seseorang yang belum kita kenal. singkat cerita, aku bersama temanku, namanya abi tinggal disebuah rumah. rumah yang sangat sederhana itu adalah milik keluarga Pak G, sebut saja begitu. awalnya aku tak menyangka harus tinggal di rumah ini, jauh dari orantua, tidak membawa hp, apalagi dompet. ya hany bermodal tas berisi pakaian saja. awal kami datang, kami disambut dengan cukup ramah, dipersilahkan duduk di ruan tamu, lalu ditunjukkan kamar yang akan kami tempati selama semalam ini. aku dan temanku cukup terkejut, sebuah kamar sederhan, mungkin hanya 2x3 meter saja luasnya, dengan berdindingkan triplek dan beralaskan kasur kapuk yang sudah cukup keras. tapi beginilah keadaannya, aku dan temanku harus menerimanya. kami memilih untuk berbincang-bincang dengan si empunya rumah. Pak G adalah seorang pegawai, sedangkan Bu G seorang ibu rumah tangga dan penjual kacang goreng. mereka memiliki dua orang putri dan seorang putra. kehidupan keluarga ini sangatlah sederhana. berbeda dengan keluargaku, yang mungkin semuanya bisa terpenuhi. tapi di keluarga ini, semua anggota keluarga bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka, hanya anak bungsunya saja yang masih sekolah. di saat aku akan mandi, aku sempat tercengang heran. bagaimana bisa mandi dengan keadaan kamar mandi yang seperti ini? ya tapi bagaimana lagi, kepalang basah, daripada tidak mandi, aku harus menahan bagaimana tidak terbiasanya mandi di tempat yang seperti itu. hari berganti malam, dan kami bersiap untuk makan malam. ya dengan makanan seadanya, aku pun terpaksa makan dengan ya ala kadarnya, tak seperti di rumah dimana ibuku selalu masak yang enak tiap harinya. namun aku harus menerima keadaan ini. sebelum tidur, aku dan temanku melihat Bu G sedang membungkusi kacang, yang malam itu katanya akan disetor untuk keesokan harinya dijual. kami pun membantunya dan sempat bertanya-tanya pula tentang keseharian keluarga ini. sungguh, pengalaman baru aku dapat, dimana seseorang sampai malam hari harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. akhirnya aku dan temanku pun beranjak tidur, hehehehe temanku ternyata tidak bisa tidur karena aku ngentutin dia terus hehehe ( katanya kentutku bau ououou ). dia pun balas dendam dengan terus menggangguku tidur, dasar abi ...
pagi harinya, aku bangun terlebih dahulu dari temanku, ya kira-kira pukul 5.00. setelah temanku bangun, kami membantu menyapu halaman hingga bersih dan akhirnya mandi. setelah mandi kami pergi ke gereja dengan bersepeda, cukup jauh sih sekitar 3km. setelah pulang, kami dipersilahkan untuk makan. dan aku masih ingat, salah satu lauknya adalah telur dadar yang dipotong-potong menjadi mungkin sebesar dua jari saja. tapi ya itulah yang tersedia, aku diharuskan untuk bersyukur dengan segala hal yang diberikan oleh Tuhan. pada saat aku dan temanku sedang berbincang di kamar, Pak G mengajakku untuk membantunya. kami diminta untuk mencuci beberapa bambu yang masih utuh di kalen, atau istilahnya thu semacan got yang dialiri air. airnya sangat bersih dan jernih lho friends hehehe. hampir dua jam aku di dalam kalen itu untuk mencuci bambu-bambu utuh yang katanya akan dipakai untuk mendekorasi itu. sangat melelahkan, namun senangya bisa berbaur dengan orang-orang yang baru, yang belum pernah aku kenal sebelumnya. akhirnya siang itu kami kembali ke rumah Pak G. tetapi ada satu hal lagi yang sungguh tak ku lupakan. aku dan temanku berkunjung ke sebuah rumah, dimana di daslam rumah itu tinggal seorang nenek tua, mungkin umurnya 60 tahun, dan beliau tinggal seorang diri karena sang suami sudah tiada. rumahnya amat sederhana, hanya beralaskan semen, ya seperti itulah, kalian mungkin bisa membayangkan. di dalam rumah itu aku juga sempat melihat sebuah piagam yang ditandatangani langsung oleh presiden kedua Indonesia Bapak Soeharto. ternyata suami nenek ini adalah mantan pejuang era kemerdekaan. friends, satu hal yang buat aku bangga n haru liat nenek ini. beliau, di usianya yang seharusnya bersantai-santai dengan anak cucu, masih harus bekerja membanting tulang. dan tahu bro apa pekerjaannya? beliau adalah seorang pengumpul kayu bakar. seorang nenenk yang hidup sebatang kara, bekerja sebagai pengumpul kayu bakar. ditengah kesederhanaannya, beliau tak pernah mengeluh, tetap hidup sederhana dan apa adanya. orangnya ceria, dan tampaknya sangat senang kami berkunjung ke rumah beliau. luar biasa sekali, gumamku dalam hati tentang nenek ini. akhirnya aku kembali ke rumah Pak G untuk berpamitan pulang. tak lupa sebelum pulang, kami sempat menyerahkan sembako ala kadarnya yang sudah kami bawa sejak dari base camp.
friends, aku cuma mau berbagi pengalaman hidup, bahwa tak selamanya hidup sederhana itu susah. tapi di dalam kesederhanaan itulah kita bisa temukan kebahagiaan. buat apa kita punya banya uang dan segalanya, tapi kita tidak pernah bersyukur dan bahagia? juga friends,. kita hidup harus berani untuk kerja keras, karena dengan tekad dan kerja keras apa yang kalian mau akan terwujud. jadilah pribadi yang selalu bersyukur bro, selagi kita masih dikasih kesempatan buat hidup. jangan sia-siain hidupmu, teruslah berkarya, Tuhan akan selalu memberkati, oke?
suatu liburan di awal tahun 2009, liburan yang berbeda. aku bersama beberapa temanku, yang tergabung dalam Remaja Paroki mengadakan sebuah acara, tajuknya live in. sebuah acara dimana kita, semua remaja yang ada disitu diminta untuk tinggal dua hari satu malam di rumah seseorang yang belum kita kenal. singkat cerita, aku bersama temanku, namanya abi tinggal disebuah rumah. rumah yang sangat sederhana itu adalah milik keluarga Pak G, sebut saja begitu. awalnya aku tak menyangka harus tinggal di rumah ini, jauh dari orantua, tidak membawa hp, apalagi dompet. ya hany bermodal tas berisi pakaian saja. awal kami datang, kami disambut dengan cukup ramah, dipersilahkan duduk di ruan tamu, lalu ditunjukkan kamar yang akan kami tempati selama semalam ini. aku dan temanku cukup terkejut, sebuah kamar sederhan, mungkin hanya 2x3 meter saja luasnya, dengan berdindingkan triplek dan beralaskan kasur kapuk yang sudah cukup keras. tapi beginilah keadaannya, aku dan temanku harus menerimanya. kami memilih untuk berbincang-bincang dengan si empunya rumah. Pak G adalah seorang pegawai, sedangkan Bu G seorang ibu rumah tangga dan penjual kacang goreng. mereka memiliki dua orang putri dan seorang putra. kehidupan keluarga ini sangatlah sederhana. berbeda dengan keluargaku, yang mungkin semuanya bisa terpenuhi. tapi di keluarga ini, semua anggota keluarga bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka, hanya anak bungsunya saja yang masih sekolah. di saat aku akan mandi, aku sempat tercengang heran. bagaimana bisa mandi dengan keadaan kamar mandi yang seperti ini? ya tapi bagaimana lagi, kepalang basah, daripada tidak mandi, aku harus menahan bagaimana tidak terbiasanya mandi di tempat yang seperti itu. hari berganti malam, dan kami bersiap untuk makan malam. ya dengan makanan seadanya, aku pun terpaksa makan dengan ya ala kadarnya, tak seperti di rumah dimana ibuku selalu masak yang enak tiap harinya. namun aku harus menerima keadaan ini. sebelum tidur, aku dan temanku melihat Bu G sedang membungkusi kacang, yang malam itu katanya akan disetor untuk keesokan harinya dijual. kami pun membantunya dan sempat bertanya-tanya pula tentang keseharian keluarga ini. sungguh, pengalaman baru aku dapat, dimana seseorang sampai malam hari harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. akhirnya aku dan temanku pun beranjak tidur, hehehehe temanku ternyata tidak bisa tidur karena aku ngentutin dia terus hehehe ( katanya kentutku bau ououou ). dia pun balas dendam dengan terus menggangguku tidur, dasar abi ...
pagi harinya, aku bangun terlebih dahulu dari temanku, ya kira-kira pukul 5.00. setelah temanku bangun, kami membantu menyapu halaman hingga bersih dan akhirnya mandi. setelah mandi kami pergi ke gereja dengan bersepeda, cukup jauh sih sekitar 3km. setelah pulang, kami dipersilahkan untuk makan. dan aku masih ingat, salah satu lauknya adalah telur dadar yang dipotong-potong menjadi mungkin sebesar dua jari saja. tapi ya itulah yang tersedia, aku diharuskan untuk bersyukur dengan segala hal yang diberikan oleh Tuhan. pada saat aku dan temanku sedang berbincang di kamar, Pak G mengajakku untuk membantunya. kami diminta untuk mencuci beberapa bambu yang masih utuh di kalen, atau istilahnya thu semacan got yang dialiri air. airnya sangat bersih dan jernih lho friends hehehe. hampir dua jam aku di dalam kalen itu untuk mencuci bambu-bambu utuh yang katanya akan dipakai untuk mendekorasi itu. sangat melelahkan, namun senangya bisa berbaur dengan orang-orang yang baru, yang belum pernah aku kenal sebelumnya. akhirnya siang itu kami kembali ke rumah Pak G. tetapi ada satu hal lagi yang sungguh tak ku lupakan. aku dan temanku berkunjung ke sebuah rumah, dimana di daslam rumah itu tinggal seorang nenek tua, mungkin umurnya 60 tahun, dan beliau tinggal seorang diri karena sang suami sudah tiada. rumahnya amat sederhana, hanya beralaskan semen, ya seperti itulah, kalian mungkin bisa membayangkan. di dalam rumah itu aku juga sempat melihat sebuah piagam yang ditandatangani langsung oleh presiden kedua Indonesia Bapak Soeharto. ternyata suami nenek ini adalah mantan pejuang era kemerdekaan. friends, satu hal yang buat aku bangga n haru liat nenek ini. beliau, di usianya yang seharusnya bersantai-santai dengan anak cucu, masih harus bekerja membanting tulang. dan tahu bro apa pekerjaannya? beliau adalah seorang pengumpul kayu bakar. seorang nenenk yang hidup sebatang kara, bekerja sebagai pengumpul kayu bakar. ditengah kesederhanaannya, beliau tak pernah mengeluh, tetap hidup sederhana dan apa adanya. orangnya ceria, dan tampaknya sangat senang kami berkunjung ke rumah beliau. luar biasa sekali, gumamku dalam hati tentang nenek ini. akhirnya aku kembali ke rumah Pak G untuk berpamitan pulang. tak lupa sebelum pulang, kami sempat menyerahkan sembako ala kadarnya yang sudah kami bawa sejak dari base camp.
friends, aku cuma mau berbagi pengalaman hidup, bahwa tak selamanya hidup sederhana itu susah. tapi di dalam kesederhanaan itulah kita bisa temukan kebahagiaan. buat apa kita punya banya uang dan segalanya, tapi kita tidak pernah bersyukur dan bahagia? juga friends,. kita hidup harus berani untuk kerja keras, karena dengan tekad dan kerja keras apa yang kalian mau akan terwujud. jadilah pribadi yang selalu bersyukur bro, selagi kita masih dikasih kesempatan buat hidup. jangan sia-siain hidupmu, teruslah berkarya, Tuhan akan selalu memberkati, oke?
life is a choice
oke bro ... perjalanan tiga tahun di smp usai sudah. semua sudah ku lewati, daei suasana MOS hingga haru biru penerimaan hasil NEM. semua bagaikan sebuah kejadian yang hanya berlangsung satu hari, dimana kita gak nyangka udah tiga tahun kita di smp. ya, sebentar lagi masa dimana kita berpisah akan datang, masa dimana kita mulai mengenal kehidupan dan jati diri kita.masa-masa smp kita tinggalkan dan kita tatap bangku sma. semua rasa tercampur jadi satu. tapi itulah hidup kita. my life as a train, terus berjalan, kadang cepat kadang lambat. filosofi kehidupan mengalir seperti air mungkin ada benarnya, tetapi tak selamanya kita mengikuti air. jika air itu membawa kita ke dalam kematian, mengapa harus kita ikuti? ya, di sinilah kita belajar untuk memilih. hidup itu penuh akan pilihan, dan tentunya pilihan yang pasti akan ada dampak dan konsekuensinya. semua tergantung kita, ini hidup kita dan ini jalan kita. aku sudah memilih untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat sma, dan aku sadar akan konsekuensi yang harus aku emban ke depannya. semua butuh keberanian, karena keberanian adalah awal dimana jalan hidup kita akan terbuka lebar, jalan menuju apa yang kita inginkan selama ini. jadi janganlah takut akan segala pilihan di hidup kita, dan jangan takut untuk memilih. hidupmu ada di tangan Tuhan, tapi kemana kamu melangkah, itu ada di dalam dirimu sendiri yang menentukan.
Rabu, 10 November 2010
hariku bersamanya
setahun lebih kita bersama, tak terasa tawa dan tangis berbaur menjadi satu dalam sebuah memori indah. kisah itu dimulai pada bulan agustus tahun lalu. sore itu aku masih ingat, ada sebuah sms dari seorang yang belum ku kenal. sms dari sebuah nomer yang tampaknya belum aku kenal. dari situ kami mulai berkenalan. akhirnya ku tahu, bahwa dia adalah perempuan yang tadi berbincang denganku di beringin. awalnya tak ada sedikit pun perasaan diantara kami berdua. seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat dan semakin sering berkomunikasi. tepat seminggu sebelum aku merasakan hidup baru, malam hari pukul 9, dia menangis. aku pun bertanya mengapa. dan semua teka teki itu terjawab. ya mungkin kalian tahu apa jawabannya. dari sinilah kisah cintaku dimulai. hari demi hari aku jalani bersamanya, tak terasa hampir separuh hidupku saat itu aku habiskan bersamanya. tapi tak seterusnya perjalanan cinta berjalan dengan mulus. aku sempat melihatnya berdua dengan seseorang di depan mataku, lalu selama satu hari dia tidak mengabari aku karena kalah lomba, hingga masalah aku terlambat menjemputnya. semua masih tergambar jelas di benakku. betapa besar aku berkorban untuknya, waktu;tenaga; dan pikiran selalu aku korbankan untuknya. bahkan aku rela menemaninya hingga larut malam hanya karena dia sulit tidur. tapi semua itu aku lakukan demi dia, demi menunjukkan bahwa aku tidak seburuk yang dia bayangkan. tapi sekarang semua itu telah berakhir. semenjak ia meninggalkan sekolah ini, aku dan dia menjadi menjauh dan semakin menjauh. puncaknya pada malam setelah ia mengakhiri peluh keringatnya dengan peringkat empat tahun ini. peristiwa yang tak kan pernah aku lupakan dalam kehidupanku. kami berpisah, entah untuk sementara waktu ataupun untuk selamanya. aku harap ini hanya sebuah cobaan Tuhan dalam kehidupanku. aku berjanji akan menggapainya lagi. aku akan dapatkan lagi semangat hidupku yang hilang kini. :)
Langganan:
Postingan (Atom)